Nilai Kearifan Lokal Falsafah Masyarakat Tanah Massenrempulu : Penanaman Wawasan Kebangsaan sebagai Langkah Preventif Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimisme
Oleh: Hajra Yansa
“Sipakatuo kamu jo lino
Sipakario-rio kamu to padanta pada tau
Sipaingaran kamu, kan pada
kita to massiunu to tuopa”
Kalimat diatas adalah sepenggal petua dari orang
terdahulu atau lebih akrabnya disapa to
jolota’ dalam bahasa orang Duri, hingga hari ini kalimat tersebut menjadi
unsur budaya yang sangat prinsipil dalam kehidupan masyarakat Tanah
Massenrempulu. Seiring perkembangan zaman, petua tersebut menjelma menjadi
falsafah atau pegangan hidup hingga kini bagi Masyarakat Massenrempulu.
Falsafah tersebut ialah Sipakatuo, Sipakario dan Sipaingaran atau
disingkat 3 S dan lebih akrab lagi disebut TOBANA (TOlong menolong, BAntu
membantu dan NAehat- menasehati).
Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung pada falsafah 3S diejawantahkan pada
kehidupan yang rukun dan damai, peduli terhadap sesama, tolong menolong dan
saling mengingatkan. Falsafah dari tanah Massenrempulu ini mengandung
nilai-nilai luhur sesuai dengan Pancasila khususnya pada butir 2, 3 dan
5 dengan bunyi “Kemanusian yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan
Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.” Namun falsafah hidup ini kurang
teraktualisasi secara baik di masyarakat perkotaan.
Merujuk pada perkembangan zaman yang semakin modern
berbagai falsafah hidup pada kebudayaan di Indonesia kian hilang dikikis
modernisasi, terkhusus lagi bagi masyarakat perkotaan. Padahal pada hakikatnya
falsafah pada keberagaman budaya di Indonesia adalah modal sosial untuk
menangkal diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimisme. Diskriminasi,
Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimisme
adalah permasalahan yang semakin menggerogoti negeri Ini. Setiap harinya
di Televisi, media pers dan media sosial tak henti-hentinya menayangkan dan
menyajikan kasus-kasus diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimisme.
Suminto A Sayuti (Anjar: 2015) mengatakan bahwa kita memiliki kosa-budaya yang
begitu melimpah ruah. Apapun bentuk dan wujudnya, budaya bangsa tersebut
merupakan dan menjadi modal dan identitas, benteng, serta sekaligus sebagai
“paspor utama,” terlebih lagi, dalam tata pergaulan dan tegur-sapa global.
Penanaman Wawasan Kebangsaan sebagai Langkah Preventif Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Ekstrimisme
Mengingat beberapa materi pada pelatihan bela Negara
yang diadakan oleh Kementrian Pertahanan Republik Indonesia pada tahun 2016 dan
FGD Pemantapan Bela Negara Bagi Organisasi Pemuda dan Ormas/LSM yang
diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Sulawesi
Selatan pada tahun 2017 menuntut penanaman wawasan kebangsaan dan bela Negara
bagi setiap warga Negara. Wawasan kebangsaan bagi bangsa Indonesia dipandang
sebagai falsafah hidup bangsa dan digunakan sebagai “way of life” atau
merupakan kerangka atau peta pengetahuan yang mendorong terwujudnya jati diri
dan digunakan sebagai acuan bagi warga Negara Indonesia untuk menghadapi dan
mengintrepretasi lingkungan (Kementrian Pertahanan Ri Direktorat Jenderal
Potensi Pertahanan, 2014: 10). Olehnya nilai-nilai kearifan lokal kebudayaan
Indonesia khususnya falsafah yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila mesti
dijadikan bahan pada pendidikan wawasan kebangsaan dan bela Negara. Karena
sistem pertahanan Negara Indonesia adalah pertahanan semesta maka seluruh
elemen masyarakat mesti dikerakan untuk ikut dalam pembelaan Negara. Dan
ancaman Negara hari ini adalah sikap-sikap Diskriminasi, Intoleransi dan
Kekerasan Ekstrimisme yang berkembang di masyarakat. Ke 3 permasalahan tersebut
saling terkait, semuanya dimulai dari intoleransi kemudian diskriminasi dan
berujung pada kekerasan ekstrimisme.
Nilai Kearifan Lokal Falsafah Masyarakat Tanah Massenrempulu
Nilai kearifan lokal falsafah masyarakat Tanah
Massenrempulu dapat dijadikan sebagai salah satu falsafah hidup pada penanaman
wawasan kebangsaan di Indonesia terkhusus lagi bagi warga Sulawesi-Selatan.
Nilai falsafah 3 S (Sipakatuo,
Sipakario dan Sipaingaran) sama sekali tidak bertentangan dengan Pancasila
justru sejalan dengan Pancasila sebagai falsafah Negara. Sudah saatnya nilai
kearifan lokal yang ada pada setiap tatanan masyarakat menjadi sebuah solusi
atau modal sosial untuk permasalahan di Negeri ini. Setiap butir falsafah
mampu kita implementasikan dalam character
building.
1. Nilai Sipakatuo solusi
Kekerasan Ekstrimisme
Kekerasan Ekstrimisme bukan hanya permasalahan
Indonesia namun permasalahan dunia. Semua Negara di Dunia berusaha untuk
melawan Kekerasan Ekstrimisme (CVE) dan mencari akar-akarnya. Pada dasarnya
langkah preventif yang dapat dilakukan saat ini yaitu penanaman sejak dini pada
anak-anak, remaja dan orang dewasa
tentang pentinganya kesadaran diri dan hati nurani melihat sesama manusia
adalah satu bentuk ciptaan yang berada di Dunia.
Salah satu nilai kearifan lokal atau falsafat
Masyarakat Massenrempulu yang dapat dijadikan nilai untuk mencegah kekerasan
Ekstrimisme adalah Sipaktuo. “Sipakatuo kamu jo lino” yang
artinya kalian saling menghidupi di dunia. Sipakatuo
ini memiliki esensi dasar yaitu memanusiakan manusia, melihat sesama
sebagai manusia yang memiliki hak hidup dan wajib mendapatkan perlindungan.
Selain itu sipakatuo diwujudkan dalam
kehidupan sosial dengan saling menghormati. Sipakatuo
sejalan dengan sila ke 2 Pancasial “Kemanusian yang adil dan beradab.” Jika
sesama manusia sudah menyadari keberadaan diri mereka sama dengan diri orang
lain maka kasus-kasus kekerasan ekstrimisme dapat diminimalisir.
2. Sipakario solusi Kekerasan Diskriminasi
Diskriminasi di Indonesia masih tinggi. Hal ini
terlihat dari masih banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap kaum
minoritas. Praktik diskriminasi yang terjadi akibat masyarakat tidak mempunyai
toleransi terhadap orang yang memiliki latar belakang berbeda. Dalam penjelasan
psikologis, sikap diskriminatif atau toleransi dilatarbelakangi oleh
kepribadian. Olehnya yang perlu mendapatkan perhatian ialah prinsip hidup dan
kepribadian setiap indivdu.
Nilai falsafah sipakario
memiliki arti berbagi kebahagian. Orang terdahulu di Masyarakat Tanah
Massenrempulu mengatakan sipakario-rio kamu to padanta pada tau (saling berbagi kebahagian sesama
manusia). Arti sebenarnya dari sipakario ini
ialah memandang sesama manusia sama dengan kita tanpa melihat perbedaan yang
ada dan tanpa melihat kekurangannya. Maka perlunya berbagi kebahagian, menjalin
silaturahmi tanpa adanya sikap diskriminasi. Sipakario sejalan dengan sial keadilan bagi seluruh rakyat
Indonesia
3. Sipaingaran solusi persoalan Intoleransi
Gerakan intoleransi sudah masuk ke dalam kehidupan
bernegara, Semua kondisi ini merupakan potensi yang cukup mengkhawatirkan bagi
Bangsa Indonesia sendiri. Bahkan kasus intoleransi sudah ada disekeliling kita.
Langkah pencegahan yang dapat diambil yaitu pendidikan toleransi harusnya sudah
ditekankan sejak dini mulai dari lingkungan keluarga karena keluarga adalah
agen pertama pendidikan. Kedua, pendidikan toleransi juga harus ditekankan di
sekolah dasar hingga menengah. Sistem pendidikan harus disusun agar dapat
menerapkan rasa toleransi sejak dini. Apabila masyarakat sudah terbentuk
menjadi masyarakat yang toleran maka menghargai keberagaman itu akan terwujud.
Salah satu nilai falsafah masyarakat Tanah Massenrempulu yang
dapat diambil untuk pendidikan toleransi ialah Sipaingaran. Salah satu petua to jolo ta’ mengatakan sipaingaran
kamu, kan pada kita to massiunu
to tuopa, Artinya
saling mengingatkan karena kita sama-sama saudara yang hidup. Jika sesama
manusia mulai dari pemimpin Negara saling mengingatkan dengan jalan mengambil
kebijakan tanpa memihak maka toleransi dapat terwujud. Sesama manusia dapat
saling mengingatkan dengan jalan memberikan pemahaman yang baik tanpa
menyinggung sesamanya. Nilai falsafah sipaingaran sejalan dengan sila
persatuan Indonesia
Saatnya Mempertahankan Identitas Bangsa
Uraian sederhana di atas mungkin terbilang kecil untuk menghilangkan
segala permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. Tetapi, langkah kecil
tersebut dirasa akan mampu mendobrak atau meminimalisir permasalahan yang ada
dan menjadi langkah preventif sejak dini bagi anak-anak yang akan tumbuh.
Minimal untuk mengubah pola pikir mereka dalam memandang keberagaman yang ada
di Indonesia, memahami arti Bhineka Tunggal Ika, memiliki falsapah atau
pegangan hidup dan berintegritas. Nilai-nilai yang diambil dari kebudayaan
Indonesia adalah salah satu bukti pertahanan Negara dalam mempertahankan
Identitas Bangsa. Sudah saatnya kita ikut dalam bela Negara. Hal terpenting
yang bisa dilakukan yaitu paham mengenai wawasan kebangsaan dan menanamkan
wawasan kebangsaan berdasarkan falsafah yang berkembang di setiap daerah dan
sejalan dengan pancasila pada generasi yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Anjar. 2015. Budaya dan Kearifan Lokal di Era Global: Pentingnya
Pendidikan Bahasa dan. http://fbs.uny.ac.id/rubrik-tokoh/budaya-dan-kearifan-lokal-di-era- global-pentingnya-pendidikan-bahasa-dan-seni-suminto.
Diakses 9 Januari 2018.
Kementrian
Pertahanan RI Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan. 2014. Tataran Dasar Bela Negara. Jakarta:
Ditjen Pothan Kementrian Pertahanan RI.
Komentar
Posting Komentar